Rss Feed

  1. Sebagian orang memilih bersenang-senang dalam kehidupan dunia tanpa peduli dengan kehidupan akhiratnya kelak. Hal ini terlepas dari orang tersebut meyakini apalagi yang tidak meyakini  kehidupan akhirat. Sebagian lainnya memilih untuk menderita di dunia atau menunda kesenangan demi kehidupan akhirat yang bahagia. Dengarkan baik-baik! Mengapa kita tidak memilih bahagia di dua kehidupan tersebut? Meraih kebahagiaan dunia sekaligus akhirat bukanlah sebuah larangan. Malah sebuah kewajiban bagi setiap manusia, apapun agama, ras, bangsa dan sukunya. Sebagai seorang yang mencoba menjadi muslim, izinkan saya membahas pedoman meraih kebahagiaan dunia akhirat berdasarkan perspektif islam, tentunya. Dalam hal ini surah al-ashr ayat 1-3;

    1. Memiliki Keyakinan

    Apapun agama atau mahzab Anda, memiliki keyakinan adalah sebuah hal yang niscaya adanya pada setiap manusia. Bahkan seorang atheis  (tidak meyakini keberadaan Tuhan) saja memiliki keyakinan. Mereka yakin bahwa Tuhan itu tidak ada. Keyakinan mereka akan ketiadaan Tuhan adalah sebuah keyakinan. Untuk dapat yakin Anda harus mengetahui terlebih dahulu sesuatu yang Anda yakini tersebut. Mustahil Anda menikahi orang yang tidak Anda kenal sama sekali.Mari kita berpikir sejenak; apakah keyakinan kita benar-benar proses pencarian kita sendiri atau sekadar warisan nenek moyang?

    2. Berbuat Baik

    Siapa yang tidak tersentuh melihat kebaikan Bunda Theresa yang menolong secara langsung para penderita kusta yang tak seiman dan sebangsa dengannya. Kecuali jika keyakinan kita mengajarkan tentang buruk sangka. Bahkan seorang peramal tak dapat mengetahui isi hati dan pikiran seseorang. Mengapa kita mesti repot-repot berburuk sangka pada perbuatan baik seseorang? Ataukah kita tidak mampu sebaik itu? Jika kita memang orang baik, seharusnya kita  berpikir,berkata dan berbuat baik. Semoga kita mendapatkan hasil yang baik! Seperti kata Gusdur, Presiden Indonesia yang ke 4; “ Berbuatlah baiklah, maka orang tidak akan menanyakan apa agamamu? “. Atau pesan dari Thomas Paine; “ Negaraku adalah dunia dan agamaku adalah berbuat baik. “

    3. Menyampaikan Kebenaran

    Untuk menyampaikan kebenaran, Anda mesti telah menaati kebenaran terlebih dahulu. Kebenaran itu obyektif dan dapat diperoleh dari kepemilikan kita pada keyakinan. Jangan melarang melakukan sesuatu sementara sesuatu tersebut juga masih Anda lakukan. Ini sering terjadi pada orangtua kepada anaknya. Kita harus menjadi contoh, bukan sekadar member contoh. Kita menyuruh anak atau adik kita membaca buku sementara kita tengah asyik menonton sinetron naga. Tugas kita hanya menyampaikan kebenaran, bukan memaksakan kebenaran. Jika sudah menyampaikan kebenaran, kewajiban kita sudah lunas.

    4. Bersikap Sabar

    Setelah berkeyakinan, berbuat baik dan menyampaikan kebenaran, langkah terakhir yang mesti kita lakukan adalah bersikap sabar. Karena manusia semulia Nabi saja masih saja ada yang musuhi. Apalagi manusia serba salah seperti kita. Selain dapat meredam permusuhan, kesabarankita  juga mendapat pahala di sisi Tuhan. Sabar bukanlah bersikap tidak peduli pada keadaan. Sabar adalah optimisme yang terukur pada diri seorang yang berkeyakinan, sering berbuat baik dan menyampaikan kebenaran. Karena setiap masalah yang kita hadapi, pasti ada jalan keluarnya. Sungguh, pasti ada jalan keluarnya.

    Pribadi  yang berpikir, berkata dan bertindak positif saja belum tentu mendapat hasil yang positif. Apalagi yang tidak berpikir, berkata dan bertindak positif ? Saya sangat suka dengan analogi yang disampaikan teman diskusi saya; Zainul Alim. Beliau berkata; Seseorang yang punya BB belum tentu BBM-an , apalagi yang tidak punya BB. Semuanya bergantung pada kitanya, mau menggunakan BB (akal) untuk BBM-an (berpikir) atau menyia-nyiakannya?.Sudah sangat banyak nikmat dan kebahagiaan yang Tuhan berikan kepada kita. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kita cuekin?

    Semoga kita meraih kebahagiaan Dunia dan Akhirat!

    | |


  2. 0 komentar:

    Poskan Komentar

    Go Discussion !