Rss Feed
  1. Biografi Singkat Soekarno

    Selasa, 17 April 2012


    Soekarno adalah salah satu, jika bukan satu-satunya orang indonesia yang paling berpengaruh di dunia. Ia dituduh komunis oleh para imperialis barat. Tapi benarkah dia adalah seorang komunis ? Ia juga difitnah sebagai kolaborator jepang. Ada apa sebenarnya ? Jangan keburu menyimpulkan, biarkan Soekarno menjelaskan :

    Aku lahir saat fajar baru menyinsing, pada sebuah awal abad baru, abad yang penuh harapan setelah melalui abad-abad kelam, 1901-06-06 tepatnya. Ibuku adalah keturunan hindu budha asal bali, sedang ayah berasal dari jawa dan  penganut  teosofie islam.  Pada masa kecilku di mojokerto, aku sempat sakit selama berbulan-bulan hingga nyaris mati.  Aku memiliki kakak perempuan yang bernama Sukarmini. Sedari kecil, watak kepemimpinanku telah muncul hingga dapat masuk sekolah kulit putih (Belanda). 

    Setelah Itu…

          Aku sekolah menengah atas di Surabaya dan tinggal di rumah teman akrab ayah, namanya H.O.S  Tjokroaminoto. Kehidupan mudaku banyak  terhabiskan  di kamar kecil nan gelap hanya untuk membaca. Karena ku tahu pasti, aku tidak punya uang untuk main dan jajan seperti kebanyakan anak muda lainnya. Sebagai gantinya, aku berdiri diatas meja kamar dan berpidato mengikuti cara Tjokroaminoto berpidato yang memang adalah seorang Pemimpin politik. Tidak hanya meminjam gaya pidato Tjokroaminoto, aku juga meminjam buku-bukunya, rumahnya dan pemikiran politiknya. Meskipun masih sangat muda, aku sudah menjadi petinggi di organisasi-organisasi kepemudaan, Jong Java salah satunya. Di kamar yang sempit, pemikiranku menjadi sangat luas karena buku-buku yang aku baca. Aku menyelami buah pemikiran Karl Marx, Engels hingga Lenin dari rusia. Samapai-sampai aku menguasai tujuh bahasa asing. 

    Tidak jarang, aku dihina bahkan dipukuli oleh anak-anak Belanda. Tapi ini bukan kisah sinetron. Dan bukan Soekarno namanya kalau tidak melawan dan berontak.  Ini pula yang membuatku digemari wanita bumi putera (pribumi atau inlander) dan wanita berambut pirang sekalipun. Setelah lulus sekolah menengah atas, cita-cita ayah untuk menyekolahkanku ke Belanda dapat saja terkabul jika ibu tidak melarang. Pun aku adalah seorang penulis yang andal. Aku bahkan menulis ratusan karangan saat masih muda. Juga aku adalah penikmat film barat. Untuk meraih cita-cita insinyurku, aku lanjut sekolah tinggi teknik di Bandung. Setelah lulus kuliah, pesan terakhir Rektor kepadaku adalah : “ ijazah ini dapat hancur dan robek disuatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunya kekuatan yang dapat hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakyat. Sekalipun orangnya sudah mati “. Aku takkan lupa pesan itu.

    Lulus Kuliah

    Setelah lulus kuliah, tidak sedikit tawaran menjadi asisten dosen atau pekerjaan dari dinas pekerjaan umum untuk pembangunan rumah dan jalan. Aku menolak mentah-mentah tawaran pemerintah (Belanda) tersebut sembari berkata : “ tujuan saya bukan untuk membangun rumah, tapi untuk membangun bangsa “. Akhirnya, aku menjadi guru walaupun tidak lama aku dipecat secara halus oleh pemilik sekolah yang bukan kebetulan adalah orang belanda. Aku kini fokus dengan konstelasi politikku. Aku ingin mengubah kultur feodalisme yang mendarah daging. Walaupun keturunan bangsawan,  aku tak ingin dipanggil raden. Walaupun jawaku kental, aku ingin agar masyarakat berbahasa satu, bahasa indonesia. Walaupun beragama islam, aku toleran kepada kristen,budha, hindu dan keyakinan lainnya. Sewindu sama dengan delapan tahun, tahun 1901-1909 adalah windu dengan pemikiran kanak-kanak. 1910-1918 adalah windu pengembangan. 1919-1927 windu untuk mematangkan diri. Dan soekarno, sekarang sudah siap.

    Masa-masa di Penjara

    Kemiskinan bukanlah sesuatu yang patut dimalukan. Aku berteman dengan siapa saja, termasuk pelacur. Bagiku, pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia.  Kendati Belanda terus berusaha memecah‐belah kita menjadi kelompok yang terpisah‐pisah yang masing‐masing membenci satu sama lain. Sebagai gantinya, aku menyusupkan pelacur kepada mereka yang saban malam mereka kunjungi. Apabila tiba waktuku berpidato, rakyat tentu berkumpul seperti semut. Banyak yang bertanya : “ Apakah Bung Karno tidak takut dipenjara karena terus mempengaruhi rakyat lewat pidato ? “. Bung, setiap agitator dalam setiap revolusi tentu mengalami nasib masuk penjara. Akupun tahu, bahwa pada satu saat aku akan ditangkap. Hanya soal waktu saja. Aku yakin, bahwa perbuatan‐perbuatanku akan dilukis dalam sejarah dan tantangan terhadapku pun merupakan saat yang bersejarah. Mereka ini adalah pemburu dan kamilah binatang buruan. 

    Pada tanggal empat Juli 1927, mereka menganggapku kalah hanya karena aku berhasil ditangkapnya. Bukankah sudah kukatakan ? Seorang pahlawan yang hanya mau mengerjakan yang baik tidak pernah kalah untuk selama‐lamanya. Kalau sudah nasibku untuk menahankan siksaan, biarkanlah. Bukankah lebih baik Sukarno menderita untuk sementara daripada Indonesia menderita untuk selama‐lamanya ?. Di penjara, aku belajar mandi cepat, makan cepat, membaca cepat dan menulis pun harus cepat. Di Penjara pula, aku menulis tesis tentang kolonialisme  yang kemudian diterbitkan dalam selusin bahasa di beberapa negara dan diguratkan dengan kata yang menyala‐nyala. Ruang penjara adalah ruang sekolahku. Sukarno adalah seorang Satria. Pejuang seperti Satria boleh saja jatuh, akan tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.

    Kepadamu kukatakan harapanku, sebagai usaha untuk dapat memahami Sukarno sedikit lebih baik. Lima kali sehari aku sujud secara lahir dan batin dalam mengadakan hubungan dengan Maha Pencipta. Mungkinkah orang seperti itu jadi Komunis? Tuhan berada dimana‐mana, di hadapanku, di belakangku, memimpinku, menjagaku. Ketika kenyataan ini hinggap dalam diriku, aku insyaf bahwa aku tidak perlu takut‐takut lagi, karena Tuhan tidak lebih jauh daripada kesadaranku. Aku hanya perlu memanjat ke dalam hatiku untuk menemui‐Nya. Aku menyadari bahwa aku senantiasa dilindung‐Nya untuk mengerjakan sesuatu yang baik. Dan bahwa Ia memimpin setiap langkahku menuju kemerdekaan.

    Kemudian aku membaca Al Quran. Dan hanya setelah meneguk pikiran‐pikiran Nabi Muhammad s.a.w. aku tidak lagi mencari‐cari buku sosiologi untuk memperoleh jawaban atas bagaimana dan mengapa segala‐galanya ini terjadi. Aku memperoleh seluruh jawabannya dalam ucapan‐ucapan Nabi. Dan aku sangat puas. Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kernerdekaan, dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama."

    Pertemuan dengan Bung Hatta

    Tidak lama setelah bebas dari penjara, saya bertemu dengan Hatta dan Syahrir yang juga telah bebas. Aku bebas dari penjara, sedang mereka bebas dari tuntutan akademis kuliahnya di Belanda. Rapat dan perdebatan pun dimulai, Aku bertanya : "Siapakah yang akan jadi pimpinan Bung? Bukukah? Kepada siapakah jutaan rakyat akan berpegang? Kepada kata‐katakah? Tidak seorangpun dapat digerakkan oleh kata‐kata. Kita tidak mungkin memperoleh kekuatan dengan kata‐kata dalam buku pelajaran. "Mendidik rakyat supaya cerdas akan memerlukan waktu bertahun‐tahun, Bung Hatta. Jalan yang Bung tempuh baru akan tercapai kalau hari sudah kiamat," kataku.
     
    "Rakyat akan mentertawakan Bung Karno kalau masuk penjara sekali lagi," jawab Hatta. "Rakyat akan mengatakan: Itu salahnya sendiri, Kenapa Sukarno selalu mempropagandakan Indonesia Merdeka, sedang dia tahu bahwa Belanda akan menyetopnya. Dia itu gila. Jadi perjuangan untuk kemerdekaan masih akan memakan waktu bertahun‐tahun lagi. Rakyat harus dididik dulu kearah itu." Intinya, Aku mau revolusi, bung Hatta mau reformasi. Seperti dugaan Hatta, aku ditahan lagi, bahkan diasingkan. Diasingkan di flores, kreativitasku tidak mati. Dengan tetap tinggal disini, rakyat Marhaen melihat, bagaimana pemimpinnya juga menderita untuk cita‐cita. Hampir lima tahun di pulau bunga, flores aku lalu dipindahkan ke bengkulu karena sering sakit-sakitan. Disanalah, aku mengenal Fatmawati. Tapi karena kecemburuan Inggit__istriku, aku urung memadunya. Hingga tiba saatnya Jepang menyerang sumatera.

    Jepang Menyerang

    Persoalan Negeri Belanda sekarang bukan bagaimana membungkam Sukarno. Persoalan Negeri Belanda sekarang adalah bagaimana menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka seperti pengecut, mereka lari pontang panting. Belanda membiarkan kepulauan ini dan rakyat Indonesia jadi umpan tanpa pertahanan. Negeri Belanda membiarkanku tinggal. Ini adalah kesalahan yang besar dari mereka. Tinggallah aku yang meyakinkan saudara-saudaraku tersebut. Dan kami pun mengungsi ke Padang.Di padang, aku berdialog bahasa prancis dengan kapten Sakaguchi beserta petinggi-petinggi jepang lainnya. Disanalah aku mengadakan pertemuan yang sampai sekarang tidak banyak orang mengetahuinya. Pertemuan yang sangat besar artinya. Pertemuan yang menentukan strategiku selanjutnya selama peperangan. Pertemuan yang sampai sekarang memberikan cap kepadaku sebagai "Kolaborator Jepang". Hidup atau matinya tanah airku tergantung kepada sukses atau tidaknya pembicaraan itu.

    Jepang sepakat, bahwa cara yang paling mudah untuk mendekati rakyat adalah mendekati Sukarno. Jepang memerlukan tenagaku dan ini kuketahui. Akan tetapi akupun memerlukan mereka guna mempersiapkan negeriku untuk suatu revolusi. Bahwa sambil bekerja sama, akupun berusaha untuk memperoleh kemerdekaan bagi rakyatku. Jepang memberikan kehormatan kepadaku, mereka memberiku makan dan mereka telah memberiku kendaraan. Akan tetapi, jika tidak dengan syarat bahwa mereka turut membantu dalam usaha mencapai kebebasan negeriku, aku pasti takkan melakukannya.  Aku mencoba supaya tidak bergantung lebih banyak kepada Jepang. Rakyat memberikan apa saja yang ku perlukan. Setelah berlelah-lelah di pulau sumatera, aku kembali pulau jawa. Aku ke Jakarta.

    Kembali ke Pulau Jawa

    Sesampainya di Jakarta, tepatnya di pelabuhan, Hatta membisik : "Bagaimana pendapat Bung Karno mengenai pendudukan ini?" Aku membisikkan kembali, "Jepang tidak akan lama disini. Mereka akan kalah dan kita akan hancurkan mereka. Inipun asal kita tidak menentang mereka secara terang‐terangan. Perbedaan dalam hal partai atau strategi tidak ada lagi. Pada waktu sekarang kita satu. Pada tahun-tahun itu pula, anak angkatku, Asmara Hadi memberanikan diri bertanya kepada Inggit : "Negeri kita memerlukan bapak. Tidak hanya ibu, ataupun saya maupun Ratna Djuami yang memerlukannya. Dia kepunyaan kita semua. Rakyat memerlukan bapak sebagai pemimpinnya, tidak yang lain. Dan apa yang akan terjadi terhadap Indonesia, kalau dia hancur?". Apakah tidak ada penerus Soekarno ? Dimanakah Sokearno-soekarno muda ?  Karena sampai umurku yang sudah kepala empat ini, aku belum juga dikaruniai seorang anak.

    Setelah bercerai dengan inggit,  Bulan Juni 1943 aku menikahi Fatmawati. Di tahun berikutnya Fatmawati melahirkan seorang putera. Aku tidak sanggup menggambarkan kegembiraan yang diberikannya kepadaku. Umurku sudah 43 tahun dan akhirnya Tuhan Yang Maha Pengasih mengaruniai kami seorang anak. Jam lima waktu subuh, ketika terdengar azan dari mesjid memanggil umat untuk menyembah Tuhannya, anakku yang pertama, Guntur Sukarnoputra, lahir. Tuhan Yang Maha Penyayang dan Maha Bijaksana telah memanjangkan umur bapakku untuk dapat melihat darah dagingku menginjak dunia ini. Setelah itu ayah jatuh sakit. Fatma merawatnya berbulan‐bulan dengan tekun dan setia hingga ia menghembuskan napas terakhirnya.

    Setelah Kemerdekaan

    Seperti yang telah lama kuramalkan, pada tahun 1945 Kerajaan Dai Nippon bermurah hati menyerahkan kemerdekaan pada Indonesia. Belanda sempat kembali menancapkankan kuku kotornya ke bumi pertiwi tepatnya di papua barat, pada tahun 1962. Beberapa bulan sebelumnya, aku sempat berpidato tentang kolonialisme di irian barat. Pembebasan iran barat bukan hanya kemauan 96 juta rakyat indonesia, tapi juga keharusan sejarah. Cita-citaku tentang revolusi belum juga padam, meski kemerdekaan sudah 20 tahun kita telah rengkuh. Kita merdeka bukan untuk sewindu saja, kita merdeka untuk berwindu-windu lamanya. Merdeka untuk selama-lamanya. Sekali merdeka, tetap merdeka.

                                                          **********
    JAS MERAH, Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah, kata Soekarno. Singa podium julukan soekarno, atau penyambung lidah rakyat sebagaimana yang beliau katakan pada ribuan masyarakat di gelora bung karno dalam rangka peringatan hut RI tanggal 17 agustus 1963 memang telah tiada. Tapi semangatnya masih ada, masih terasa. Andakah penyambung selanjutnya ?.


    Semoga Bermanfaat.
    Wallahu a’lam.

    Rujukan :
        1)     Buku : Bung Karno ;  Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Biografi yang ditulis oleh Cindy Adams)
        2)     Video Soekarno dalam Arsip Nasional Republik Indonesia

    | |


  2. 8 komentar:

    1. Anonim mengatakan...

      GOBLOG NIH YANG PUNYA BLOG NYA

    2. Anonim mengatakan...

      WUUU ALAY LOE PAKE AKU AKU NULISNYAA,BIASA AJA KALEEE...

    3. Anonim mengatakan...

      BEGOG NIH YANG BUAT BIOGRAFIINYA, KATANYA SINGKAT TAPI SEABREG, WUU BILANG AJA SETENGAH SINGKAT/PANJANG, NGE-PHP DOANG LUUU, PARAH LUU DODOL TOLEEE

    4. Anonim mengatakan...

      PAYAH, PANJANG SEGINI SIIH, BILANG DONG KALO PANJANG GA ABISIN BANDWITH NEEEH, UDAH MUKA SOK GANTENHG LUWW, BLEDOGGGG PHP !

    5. Hartono Tasir Irwanto mengatakan...

      Maaf yah, kao ternyata artikel tidak sesingkat harapan teman-teman.
      Karena singkat yang saya maksud jika dibandingkan dengan buku biografi dan otobiografi beliau. Thanks komentarnya !

    6. Anonim mengatakan...

      Keep in posting Mas Hartono, mengapresiasi tulisan memang kadang membangun kadang menjatuhkan. Tapi jangan patah semangat, Mas!

    7. mudagrafika mengatakan...

      Antara miris dan sedih. Heei...!!! Kamu yang sok memaki maki di balik anonim...!!! Bahwa kamu itu yang alay! Bahwa kamu ga pernah terdidik!

    Poskan Komentar

    Go Discussion !